Setelah melihat Presentasi STK40 buat PKL...
Bogor 7 Oktober 2006…dini hari menjelang sahur
Entah kenapa beberapa saat terakhir keinginan untuk nulis membucah lagi.
Mungkin setelah denger mang Asep nulis artikel, mungkin setelah tau catetan2ku hilang ditelan virus di komputer...ga tau lah kenapa.
Biasanya setelah di depan komputer malah blank ga tau mau menulis apa
Jadi aku biasain menulis pikiran saat the moment.
Man...
Banyak yang sepertinya mesti ditularkan kepada temen2 STK dalam hal ”berbicara di depan forum”...makanya aku sempet nanya sama Edo gimana kalo sekiranya ada acara presentasi tentang ”public speaking and presentation” gratis.
Yang aku pikirin tuh acara selametan rumah Arimbi, ngundang temen2 STK sekaligus Bu Heni. Aku pengen minta Bu Heni sharing tentang presentasi and public speaking...kan emang bidangnya dia tuh.
Ada beberapa hal yang aku note tentang temen2...bukan berarti aku sendiri sudah bagus, hanya saja kan sudut pandang orang ketiga biasanya (insya Allah) subjektif
- Bahasa
Masalah ini sepertinya jarang diperhatikan. Mungkin karen temen2 belum terbiasa berada dan berbicara pada forum yang resmi dan formal...walau demikian saat bicara di seminar skripsi dan sidang sekalipun, hal ini masih muncul kok J
Bahasa yang dipake saat presentasi mesti disesuaikan dengan audiens dan kondisi...jadi akan sangat kontekstual. Karena kebanyakan dari temen2 berbicara di kampus, ada baiknya penggunaan kalimat dan bahasa juga menggunakan yang formal dengan EYD sebagai panduan.
Ga mudah memang, hal ini butuh latihan dan ”paksaan”...dalam artian semestinya ada semacam tekanan yang sifatnya eksternal yang bisa membuat pembicara berbahasa dengan baik dan benar. Kasusnya mungkin aja dosen yang minta pembicara berbahasa dengan formal, atau adanya penilaian berbicara, dll
Dalam kebanyakan kasus formal presentation, pembahasaan pembicara akan menjadi ”nilai” tersendiri bagi presentasi yang dilakukannya. Jelas akan menjadi nilai yang ga baik kalau presentasi di depan rektor misalnya dengan menggunakan katakata ”nggak boleh”, ”dibiarin”, ”make”, dan contoh lainnya.
Kalo menurut aku, kemampuan berbahasa dalam presentasi juga akan melatih kemampuan (verbal) otak kanan. Karena kita dipaksa menggunakan bahasa yang resmi, otak kita dipaksa bekerja keras sepanjang berbicara untuk mencari ”padanan kata” dari kata2 slang yang biasa kita gunakan.
Hal ini serupa dengan proses kalo kita berbicara dalam bahasa asing...artinya kalo kita terbiasa untuk berlatih menggunakan forum presentasi untuk berbahasa Indonesia dengan benar, secara tidak langsung kita juga melatih otak untuk berbahasa asing dengan baik.
- Penguasaan bahan/materi
Hal ini mutlak diperlukan! (ga pake koma lho... J)
Tanpa penguasaan bahan yang benar dan komplit, biasanya akan berdampak pertama kali pada PeDe si pembicara. Idealnya pembicara tau luar dalem materi yang dipresentasikan, jadi kalo ada pertanyaan dari setiap aspek materi sudah bisa dijawab tuh.
Hal yang bisa dilakukan untuk melatih hal ini tuh melakukan simulasi pertanyaan saat sebelum presentasi. Pikirkan semua kemungkinan pertanyaan yang akan timbul dari audiens, bahkan pertanyaan yang sederhana sekalipun. Kaitkan dengan contoh nyata untuk memberikan gambaran, kaitkan dengan bidang keilmuan lain untuk memperluas perspektif, kaitkan dengan humor,dll
- Slide yang terlalu ”ramai”
Kemajuan dan penguasaan teknologi saat ini memungkinkan siapapun bisa membuat presentasi yang sedemikian menarik dan sophisticated. Presentasi saat ini diidentikan dengan komputer atau lebih spesifik dengan ”PowerPoint”.
Banyak dari kita yang merasa bangga dengan slide yang canggih, penuh dengan efek gerak dan animasi keren, style tulisan yang lucu, gambar yang menarik, dll
Boleh...ga ada yang melarang.
Tapi pernahkah terpikir bahwa audiens akan lebih tertarik untuk melihat animasi yang dibuat daripada memperhatikan presentasi yang diberikan?
”Asikan ngeliat gambarnya daripada omongan atau isi dari slidenya?”
Sewaktu kuliah mungkin hal ini jadi salah satu senjata rahasia...karena dengan orang lebih memperhatikan slide dan bukan isinya, kita jadi jarang dapet pertanyaan yang ”mematikan”! Hehehe...bisa aja deh...
Tapi pikirkan deh kalo kita sudah bekerja dan hal ini kadung kelewat sering kita lakukan jadi kebiasaan. Katakanlah kita kerja di bidang marketing. Jadi Manajer Pemasaran. Bisa jadi bukannya klien merhatiin barang yang kita tawarkan, malah lebih tertarik nyewa kita jadi tukang bikin PowerPoint kan?...ciloko lah...
- Slide terlalu banyak tulisan
Hebatnya kita lagi, kadang kita merasa PowerPoint bisa menggantikan pembicara/presenter, jadi slide yang kita bikin penuh dengan tulisan, deskripsi, ilustrasi, dll. Yang kita lakukan saat presentasi hanya membaca slide bukan menjelaskan slide. Dalam hal ini, komputer menjadi senjata utama dalam presentasi, bukan menjadi alat bantu utama
Beberapa kelemahan:
- Kalo slide bukan kita yang buat, kita ga akan ngerti.
- Kalo ada kesalahan redaksional, jadi ”bahan” pertanyaan
- Audiens jadi males ngeliat layar, apalagi kalo tulisannya kecil
Pernah kan melihat presentasi/slide seperti ini???apa komentar temen2?
Apa yang ada dalam slide sebaiknya hanya berisikan intisari, pikiran utama, atau hanya pelengkap dari apa yang akan kita bicarakan. Biarkan audiens melihat sejenak isi slide-untuk memahami arah pembicaraan presenter-lalu perhatiannya kembali kepada presenter, bukannya terus membaca slide dan mengacuhkan pembicara.
Lain waktu mungkin presenter menggunakan slide hanya untuk menampilkan visualisasi (gambar atau grafik) tanpa disertai keterangan apapun.
Lagipula...slide yang padat berisi, dengan kata-kata yang tepat dan menarik akan lebih menarik perhatian dibanding yang penuh dengan tulisan.
- Handout buat audience
Kerap kali dalam presentasi yang formal dibagikan handout sebelum presentasi dimulai. Ini bukan hanya menjadi bahan isi kepala sebelum presentasi dimulai (jadi audiens ga mulai dari NOL besar saat presenter berbicara), tapi juga bisa jadi bahan alternatif kalo terjadi hal yang ga diinginkan...misalnya listrik mati!
Coba gimana presentasinya kalo listrik mati?kalo udah ada handout kan enak tuh, bisa tetep jalan acaranya. Terus audiens juga ga pelu bikin catetan yang banyak karena hanya menambahkan point2 penting pada handout yang dibagikan.
- Contoh dan analog kasus
Oke, hal ini terkait sekali dengan pemahaman materi presentasi.
Kalo ga ngerti bahannya boro2 mau kasih contoh, sendirinya aja pusing kok!
Seringkali audiens ingin contoh yang berkaitan dengan dunia nyata, ingin diberikan contoh yang mudah dimengerti, supaya bahan yang didapat pada presentasi gampang diingat dan dipahami.
Misalnya membahas Quality Control, kasih lah contoh produknya
- Kuasai slide
Ini mutlak!...kalo kita ga menguasai slide sampai ke titik koma-nya, bakal ketahuan kita ga profesional atau lebih repot bakal ketahuan bukan kita yang bikin slide-nya/presenter sebenarnya.
Ini hal2 yang mesti diperhatikan:
- Urutan slide
- Animasi slide...kalo di klik keluar apa bagaimana
- Kalo ada hyperlink...ada file-nya ngga
- Tahu cara menjalankan slide..maju, mundur, mencari slide tertentu...kalo bisa tanpa terlihat oleh audiens (bisa lho...bikin view di layar dan komputer kita berbeda tampilannya...jadi kalo kita nyari2 file di komputer kita, di layar ga ketahuan)
- Alat bantu/Alat peraga
Kalo perlu bawa alat bantu yang bisa dipake untuk menjelaskan materi saat presentasi. Inget ya...komputer dan PowerPoint bukan satu2nya alat untuk presentasi. Buku, mainan, peta, dll apapun yang bisa membantu presentasi kita.
l
- Humor
BeTe ga sih kao ngedenger presentasi yang lempeng2 aja, ga ada intonasi boro2 humor??? Secara alamiah manusia menyukai humor. Saat kita ketawa pikiran kita lebih rileks dan lebih gampang menerima informasi.
Ayo coba pikirin dosen siapa yang sering bercanda waktu ngajar?kita suka ga dengan kuliahnya dia? Terus bandingin dengan dosen yang strict abis, jarang ketawa atau ngebanyol. Sekalinya ngelucu jadi garing...gimana rasanya kulliah diajar beliau?
Terlepas dari mata kuliahnya, kita lebih rileks dan ingat apa2 yang diomongin waktu kuliah dosen yang menyenangkan.
Memang butuh latihan dan sedikit bakat...tapi ini bisa dlatih kok, percaya deh!
- Interaksi dengan audiens
Kerap kita lupa kalau presentasi itu merupakan komunikasi dua arah. Kita bukan hanya mau sekedar seperti ”membaca berita”, tapi juga membangun dialog dengan audiens. Tanpa dialog dengan audiens, presentasi kita hambar, audiens kehilangan interest, bahkan ujungnya bisa jadi presentasi kita percuma.
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk berinteraksi dengan audiens:
- Tatap mata audiens...jangan terpaku dengan slide atau layar terus
- Ciptakan dialog, bercakap dengan audiens...contoh dialog sederhana:
presenter: lima dikali lima sama dengan dua puluh...
audiens: lima!
- Sediakan waktu untuk bertanya
- Bergerak selama presentasi, tidak terpaku pada satu tempat
- Gunakan bahasa tubuh yang sesuai
- Rehearse...rehearse...and rehearse
No perfection without practice.
Dalam hal ini juga berlaku. Selihai apapun kita menggunakan komputer, semahir apapun kita menguasai materi, latihan dan uji coba presentasi tetap layak dilakukan. Hal ini dilakukan untuk mengeliminasi berbagai kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi
- Siapkan hardware yang dibutuhkan untuk presentasi
- Ketahui cara mengoperasikan hardware mulai pemasangan hingga presentasi siap dilakukan
- Sediakan alternatif jika terjadi mati listrik, komputer macet, dll
- Lihat susunan tempat duduk audiens untuk memastikan ruang gerak
- Jika membawa alat bantu lain, siapkan dan tempatkan di ruang presentasi sebelum waktu presentasi tiba jika perlu
- Cobalah jalankan slide/file presentasi yang sudah disiapkan
- Buat beberapa (2 atau tiga) backup file presentasi pada media yang berbeda (harddisk external, floppy, USB flash disk, dll)
Mungkin masih banyak hal lain yang mesti diperhatikan oleh temen2 berkaitan dengan presentasi yang baik, karena apa yang sudah dirangkum diatas hanya didasarkan pada pengalaman pribadi saja.
Ada banyak hal teknis yang harus dikuasai untuk menjadi seorang presenter yang andal, misalnya saja aku pernah baca ada teknik2 khusus membuat slide yang representatif dan menarik, pemilihan warna slide, disain, komposisi, bahkan ukuran huruf yang disesuaikan dengan kepentingan presentasi itu sendiri. Dalam beberapa kasus malah disebutkan pemilihan teknik pembuatan slide yang tepat yang dapat memanipulasi pikiran audiens, sehingga audiens seakan ”digiring” untuk mengikuti pola berfikir presenter.
Komentar