Tentang Kurban...
Maret 6th, 2008
Produktif menulis…sedangnya
QURBAN
Bukan…
Ini bukan tulisan religi atau keagamaan. Ini hanya sekedar refleksi dari beberapa waktu lalu yang pernah tertuang somwhere entah dimana di komputer ini.
Terlebih, aku ga menganggap diri qualified untuk mengatakan ini adalah sebuah tulisan religi.
Sekali lagi hanya refleksi pemikiran…menghargai sang Maha yang telah menciptakan keajaiban yang disebut Otak pada manusia.
Nah, dari mana kita mulai…
Beberapa waktu lalu saat Idul adha menjelang, entah kenapa pemikiran ini berkembang menjadi sesuatu yang dengan cepat ingin dituangkan dalam bentuk tulisan. Rasanya saat itu sedang berdiam ditengah ceramah khatib Shalat Ied.
Kemudian berfikir..
Allah menjadikan segala suatunya tanpa sia-sia, dan aku percaya betul itu.
Kejadian yang diciptakannya pun tak lepas dari pernyataan itu.
Jika Dia berkehendak Ibrahim as. Untuk “menyembelih” anaknya maka itupun bukan tanpa perhitungan…mengingat Dialah sang penguasa segala.
Ibrahim diperintahkan untuk mengorbankan sesuatu yang sangat dicintainya (setelah Tuhannya tentu)…anaknya yang telah sangat lama dinanti.
Mungkin terbayang penungguan sekian tahun yang harus dikorbankan demi Tuhannya, penggalan kehidupan, paruh jiwa dan hidupnya ada pada seorang Ismail.
Pun demikian Ibrahim bergeming…
Cinta sejatinya hanya Tuhannya, tidak ada yang lain
Pernah membayangkan bagaimana menyembelih seseorang yang kita cintai?
Kalau kita mungkin sudah mencari pembenaran dan berdalih dengan berbagai alasan
Hanya sampai pada tahap disampaikan pun mungkin kita sudah pingsan
Pernah membayangkan meletakkan golok di leher orang yang kita sayangi?
Mencubit pun kita tak sampai hati
Besarnya pelajaran kisah Ibrahim yang diberikan Allah
Allah memberikan peristiwa simbolis dimana manusia diminta tidak mendewakan apapun selain diriNya. Kesombongan hanya milik Allah semata…kita hanya perlu menghamba
Apa yang bisa kita ambil sekarang?
Apa pengorbanan Ibrahim hanya merupakan peristiwa simbolis yang dirayakan setiap tahun tanpa ada bekas kecuali jejak kekenyangan menyantap kambing?
Apa cerita Ibrahim hanya penghias bibir saat ceramah?
Semoga apa yang kita dapatkan lebih dari itu.
Pengorbanan merupakan sesuatu yang mahal saat ini…dari sudut pandang aku sebagai aku.
Jarang kita mau berkorban, termasuk aku.
Kalaupun iya, tak jarang dengan pamrih…walau sebiji zarrah pun
Ke-aku-an adalah sesuatu yang mutlak dimiliki setiap orang.
“kamu” dan “kalian” hanya pelengkap sehingga “aku” bisa menjadi seseorang.
Pengorbanan menjadi barang mahal.
Kita mulai dari yang sederhana saja dulu lah…apa yang kita punya sekarang.
Kalau Ibrahim diminta untuk mengorbankan apa yang paling berharga padanya, bisa ga ya kita melakukan hal yang sama. Jangan dulu berfikir tentang jiwa…mulailah dengan barang yang kita miliki yang paling kita sayang.
Handphone?...komputer?...mobil?...
Bisa tidak kita korbankan itu semua tanpa pamrih demi Tuhan kita?
Bisakah kita mengorbankan HP jutaan untuk berzakat dan puas hanya dengan HP seadanya?
Bisakah kita puas dengan mobil biasa, dan menjual mobil mewah untuk bersedekah?
Demi Allah…
Bisakah kita menahan lapar sesaat demi memberi orang miskin yang lebih membutuhkan?
Mengorbankan keinginan makan enak demi memberi infaq?
Aku juga jarang bisa…jujur yang tak terbantahkan.
Keinginan untuk dapat lebih itu selalu membuncah. Tanpa hiraukan sekeliling.
Harusnya aku, kita, malu dengan Ibrahim dan Ismail.
Mereka bicara jiwa…kita hanya bicara harta yang sesaat
Jaka..(sahut sang jiwa)
Yuk kita coba untuk berkorban. Redakan keinginan bermewah untuk berkorban demi Tuhanmu. Puaskan diri dengan kesederhanaan mencontoh Rasulmu.
Ingat tangisan orang terdekatmu…peluh saudaramu mencari cukup sementara kita tertiup hembusan AC dan tertawa bermewahan.
Ampuni aku ya Rabbi…
Astaghfirullah…
Ampuni aku…
22.41pm
Komentar