Tia...Cinta...dan Lima Kita

Arimbi Sepuluh

Maret 6, 2008

cepat, berfikir, dan merasa…

Di tengah perjalanan menempuh laut bertepi suara Tuhan

Melihat ke belakang sejauh panca indera terkembang

Lima terbentang semenjak awal…diliputi berbagai hal

Gundahnya rasa, galaunya jumawa, mengendapnya asa, semua ada dan nampak

Adakala berhenti melintas karena hujan, gerimis hati, bahkan badai…tapi entah mengapa Tuhan menerbitkan rasa cinta yang tak terbantahkan

Diselangi hujan kata, deraan rasa, dan terkadang makinya hati…pelukan akan terbentang kala rindu akan tujuan semula

Kapitan kerap bersuara tak berbunyi

“Tuhanku, terimakasih atas bahtera yang terhampar di kerajaanMu

Maafkan hamba atas salah memberi arah dan salah menempa rasa

Fakta apapun tepampang tetaplah si Cantik bagian rusukku

Semoga kita selalu menghambaMu”

Lima terbentang yang berbuah sepasang pautan rasa

Pautan rasa yang menyegarkan segala, semua, dan apa

Pemberi tawa tanpa tepi bagi kelasi cinta dan nakhoda rasa

Tak henti kata untuk mereka…hanya cinta dan indera yang membuncah

Terimakasih cinta untuk kita

Terimakasih Tuhan untuk cinta

Tetapkan hati menatap sepanjang sisa yang harus ditempuh

Tetapkan cinta atas kami sepanjang sisa yang diizinkanNya

Terimakasih cinta

Komentar