Idul Adha and our sacrifice
Setiap tahun umat muslim merayakan Idul Adha...setiap tahun pula esensinya lebih sering terbuang dibanding teresapi dalam diri setiap insan muslim.
Saya bukan ahli agama,..kalau boleh berkata dan berpendapat sebenarnya esensi ini adalah pengorbanan.
Cerita tentang pengorbanan dalam setiap Idul Adha pun berkembang hanya sampai pada pemahaman bagaimana belati Ibrahim as. yang tidak pernah menyentuh kulit Ismail as...keburu digantikan dengan 'hadiah' Allah atas ketakwaan Ibrahim pada perintahNya.
Ga pernah lagi ada cerita bagaimana cerita 'pengorbanan' Ibrahim itu masih relevan dengan zaman komputer sekarang ini.
Ga ada yang mau susah payah 'menterjemahkan' pengalaman Ibrahim-Ismail dengan apa yang seharusnya kita lakukan dengan hidup modern kita sekarang.
Bahkan ga ada yang mau mencari korelasi antara Kambing sebagai simbol kurban dengan PlayStation,Blackberry,Nonton di 21, atau tersenyum pada orang yg menzhalimi kita.
'Gatalnya' rasa saya dengan dangkalnya pemahaman akan kurban dan kebesaran iman,takwa,dan perasaan Ibrahim-Ismail,menggelitik akal saya (hadiah terbesar kedua manusia dari Allah setelah Iman).
Q1: Sudah pernahkah kita 'berkorban' sebesar Ibrahim dan Ismail?
Ismail adalah anak Ibrahim yang dinanti dengan cucuran doa dan kesabaran oleh seorang Ibrahim.Mungkin Ismail adalah harta terbesar kedua Ibrahim setelah keimanannya.
Manakala Allah menguji Ibrahim dengan perintahNya menyembelih anaknya(perhatikan...bukan membunuh! Menyembelih berarti dengan kesadaran)
apakah mereka mengaku beriman padahal mereka belum diuji?(taken from Quran)
...disebut beriman seseorang jika mampu menundukkan perasaan dan keinginannya pada keputusan Allah dan Rasulnya...pasrah dan taat
Apakah kamu merasa akan masuk surga padahal belum datang pada kamu cobaan seperti pada umat2 sebelum kamu (QS AlBaqarah 214)
Yuk mari kita buat pengorbanan walau dalam skala yang kecil...kita cari apa yang sangat berhrga dari diri kita,yang kita miliki,kemudian korbankanlah.Entah itu dengan memberikan pada orang yang lebih membutuhkan,korbankan dengan tidak menyentuhnya lagi,atau dengan cara lainnya.
Saat itu kita belajar melepaskan diri dari 'ketergantungan' duniawi,sekaligus belajar esensi berkurban.
Lebih dari sekedar mendengar cerita Ibrahim-Ismail yang beratus kali kita dapat.
Saya bukan ahli agama,..kalau boleh berkata dan berpendapat sebenarnya esensi ini adalah pengorbanan.
Cerita tentang pengorbanan dalam setiap Idul Adha pun berkembang hanya sampai pada pemahaman bagaimana belati Ibrahim as. yang tidak pernah menyentuh kulit Ismail as...keburu digantikan dengan 'hadiah' Allah atas ketakwaan Ibrahim pada perintahNya.
Ga pernah lagi ada cerita bagaimana cerita 'pengorbanan' Ibrahim itu masih relevan dengan zaman komputer sekarang ini.
Ga ada yang mau susah payah 'menterjemahkan' pengalaman Ibrahim-Ismail dengan apa yang seharusnya kita lakukan dengan hidup modern kita sekarang.
Bahkan ga ada yang mau mencari korelasi antara Kambing sebagai simbol kurban dengan PlayStation,Blackberry,Nonton di 21, atau tersenyum pada orang yg menzhalimi kita.
'Gatalnya' rasa saya dengan dangkalnya pemahaman akan kurban dan kebesaran iman,takwa,dan perasaan Ibrahim-Ismail,menggelitik akal saya (hadiah terbesar kedua manusia dari Allah setelah Iman).
Q1: Sudah pernahkah kita 'berkorban' sebesar Ibrahim dan Ismail?
Ismail adalah anak Ibrahim yang dinanti dengan cucuran doa dan kesabaran oleh seorang Ibrahim.Mungkin Ismail adalah harta terbesar kedua Ibrahim setelah keimanannya.
Manakala Allah menguji Ibrahim dengan perintahNya menyembelih anaknya(perhatikan...bukan membunuh! Menyembelih berarti dengan kesadaran)
apakah mereka mengaku beriman padahal mereka belum diuji?(taken from Quran)
...disebut beriman seseorang jika mampu menundukkan perasaan dan keinginannya pada keputusan Allah dan Rasulnya...pasrah dan taat
Apakah kamu merasa akan masuk surga padahal belum datang pada kamu cobaan seperti pada umat2 sebelum kamu (QS AlBaqarah 214)
Yuk mari kita buat pengorbanan walau dalam skala yang kecil...kita cari apa yang sangat berhrga dari diri kita,yang kita miliki,kemudian korbankanlah.Entah itu dengan memberikan pada orang yang lebih membutuhkan,korbankan dengan tidak menyentuhnya lagi,atau dengan cara lainnya.
Saat itu kita belajar melepaskan diri dari 'ketergantungan' duniawi,sekaligus belajar esensi berkurban.
Lebih dari sekedar mendengar cerita Ibrahim-Ismail yang beratus kali kita dapat.
Komentar