Idul Adha
Selamat pagi,...
Setiap mengalami Idul Adha kesadaran selalu kembali kepada beberapa hal yang sangat spesifik.
Sepertinya belum pernah tertuliskan, atau pernah tapi tidak secara dtil menjurus kepada hal yang aku ingin maksud.
1. Berkurban
2. Cerdas dan Pintar itu berbeda
===================================
BERKURBAN
Yang ini pernah aku tuliskan di wall facebook beberapa hari lalu. Ga lepas dari tukar pikiranku dengan bang Cokie selama beberapa bulan terakhir.
Berkurban itu harus ada pain-nya
Tanpa ada pain berarti apa yang kita berikan itu tidak "meaningful"
Say for example...untuk ukuran orang yang punya uang 10juta,memberikan 100ribu menjadi tidak terlalu berarti. Sakit itu baru terasa kalau jumlahnya cukup besar. Islam memberikan garis batas teritorial minimum jelas dalam angka 2,5%. Ingat...itu MINIMUM loh.
Untuk jumlah 10 juta angka yang painful itu bisa saja dikitaran 3 atau 4 juta.
Besar? Pasti!
Bayangkan nabi Ibrahim yang sudah menunggu puluhan tahun untuk mrendapatkan keturunan...dan Tuhan mengujinya untuk memberikan harta yang berharganya tidak dalam hitungan 2,5% loh...seluruhnya...nyawanya Ismail secara utuh!
Mari kita bayangkan bagaimana kita bisa dengan sangat tega menuruti perintah Tuhan untuk menempatkan pisau dileher anak yang kita sayangi
Kalau itu terlalu extreme dan kita belum sanggup, bagaimana kalau kita mulai dengan batasan yang jelas diberikan Tuhan dalam 2,5%nya.
Saya pun tengah berusaha keras untuk bisa memenuhi paling tidak minimum requirement Tuhan.
CERDAS DAN PINTAR...rare to find
dunia ini tidak kekurangan orang pintar...nampaknya kita kekurangan orang yang bisa menterjemahkan kecerdasan dan ilmu pengetahuan itu dalam bahasa yng bisa dipahami oleh orang kebanyakan.
Ukurannya jelas kok.
Pagi ini saya kurang menikmati khutbah idul adha yang diberikan, pun dalam beberapa kesempatan khutbah jumat atau idul fitri.
Orang yang memberikan khutbah itu tidak kurang cerdas loh...mereka bahkan saya anggap sangat berpendidikan dalam hal akademi atau agama, tapi yang sulit saya terima adalah bagaimana mereka kurang bisa meramu kata dan kemasan yang bisa diterima masyarakat dengan mudah.
Bahasanya terlalu di awan, membumbung tinggi dan kurang menjejak tanah, menggunakan bahasa tinggi yang sulit dipahami kami, tidak menggunakan perumpamaan yang gampang dimengerti, tidak memberikan contoh yang relevan dengan kondisi saat ini.
Ok...boleh menggunakan cerita zaman nabi2 terdahulu, tetapi kami akan jauh lebih paham kalau contoh yang diberikan bisa berimplikasi pada era internet saat ini, jadi kami bisa langsung mencontoh...disukai atau tidak sistem pendidikan kita saat ini memang tidak dilakukan u tuk membuat orang berfikir dan menganalisis, jadi lakukanlah hal yang instant...berikan contoh nyata dan langsung bisa diaplikasikan.
Ini pendapat pribadi ya, bukan menyalahkan mereka yang berkhutbah dengan luarbiasa.
Kalau memang intisari dari kegiatan Idul Adha ini adalah Ikhlas dan Kurban...maka contohnya kenapa bukan
-keikhlasan kita membawa sampah sekecil apapun untuk dibuang ditempat sampah.
-keikhlasan kita untuk antri dan mendahulukan yang benar2 berkepentingan
-keikhlasan kita untuk berdiri di kereta dan memberikan tempat duduk pada orang tua,ibu hamil, dan anak2
-keikhlasan kita memberi sebagian harta untuk orang yang membutuhkan
Bapak yang terhormat...kami perlu contoh dan tindakan nyata seperti itu.
Saya ga muluk muluk memimpikan Indonesia bisa menjadi masyarakat madani secara keseluruhan, saya hanya berani bermimpi sebuah daerah dimana madsyarakatnya misalnya sadar buang sampah ditempatnya, ramah dan saling memberi kepada yang membutuhkan, dan hal hal seperti itu.
Dimulai dari yang kecil pak...bukan cerita jaman nabi2 tanpa petunjuk "apa sebenarnya sih yang kita harus lakukan?"
===============
Komentar