Cerdas Emosi

Sebuah rumah sakit..menjelang tengah hari, sabtu sibuk.
Nampaknya semua orang mengantri berjejal di RS inikarena satu dan lain hal, mungkin yang sakit hanya sepertiga populasi oransaat ini,sisanya adalah pengantar dan tim hore ahahahaha

Anyway,bukan itu yang mau aku ceritakan.
Sebuah keluarga muda, ayah ibu dan seorang anak balita lelaki tampak sedang berdiskusi didepan apotik.
Sibuk nihan berdua merteka membahas sesuatu yang nampaknya cukup serius.
Anaknya berteriak dan menjerit dibawah kaki sang ayah sambil tangannya menjulur keatas. Karena tertarik aku maka aku perhatikan apasih yang diinginkan anaknlucu ini dari ayahnya.
Naah...ternyata anak ini ingin mengambil ponsel yang sedang dipegang ibunya untuk bermain.
Taklama setelah selesai diskusi (sekitar 3-4menit) ayanh menyerahkan ponsel ibunya ke si anak, terdiamlah si anakseketika larut dalam permainan.

Menarik karena ada beberapa hal yang ingin aku bahas
1. Betulkah ponsel sudah bisa menggantikan peran orangtua?
2. Bagaimanakah kita bersikap menanggapi anak yang "rewel" meminta sesuatu?
3. Above all...apakah kita sudah melengkapi pendidikan anak2 kita dengan behavior skill yang mumpuni? In addition of many technical skill yang didapatnya di sekolah.

Lihat satu satu yuk supaya sama2 belajar

Ponsel=Orang tua...OR... Ponsel > Orang tua
Yaelah,kesian banget sih orang2tua yang fungsinya sudah digantikan olrh sebuah teknologi mati bernama ponsel atau tablet.
Bahjkan dalam beberapa cerita fungsinya malah terkerdilkan oleh teknologi seperti yang dua ini. Anak anak pergi tidur dan melek dan yang peryama kali dililhat adalah ponsel dan tablet. Merasa bisa tergantikan perannya,para orangtua pun samanya sibuk dengan berbagai gadget yang mereka miliki. Kadang dengan dalihbekerja padahal tak lekang dari sosial media.
Merasa berpunya lantas mereka menyekolahkan anak di tempat dengan fasilitas terbaik dan tercanggih yang mereka mampu,termasuk didalamnya bukan hanya infrastruktur tetapi juga sumber daya guru yang diharapkan bisa "menggantikan peran mereka untuk mendidik".
Kemudian bukan cerita aneh mereka menyalahkan guru dan sekolah kala terjadi sesuatu pada anaknya, berdalih mereka sudah memberikan segalanya (baca uang,materi,dan fasilitas) demi sang anak tetapi disia siakan oleh pihak sekolah.

Itu dari sekolah.
Anaknya kemudian tak punya keterikatan emosi karena ya memang mereka lebih terikat dengan benda benda ajaibnya yang mampu menghubungkannya dengan berbagai emosi lain yg tersaji diluar sana.

Apa fungsi keluarga kalau sudah begini?
Hanya sekedar memfasilitasi kebutuhan finansial anak yang belum mapan untuk mendapatkan penghasilannya sendiri.
Kemana hangatnya pelukan ayah bunda?
Kemana diskusi canda dengan orangtua?
Atau sudah nggak perlu?
Terjebak dengan stigma bahwa anak adalah produk sebuah pernikahan,  bukan sebuah titipan atau karunia yang diberikan Tuhan.
Lalu kenapa mau punya anak?

Ngeri loh konsekuensinya... Dititipi jiwa oleh sang Maha penguasa Jagat Raya itu bukan perkara main2 kalau kita ingin merenung betul2.

Komentar