Sinyal

Tulisan ini terinspirasi khutbah jumat beberapa waktu lalu di Gedung Cyber2 (19Feb2015).
Khutbah yang dalam and yet cukup sederthana untuk dicerna karena disampaikan dengan lugas tapi tanpa menyindir atau mencela.

Anyway,kurang lebih begini.
Khotib mendeskripsikan hubungan manusia dengan Tuhannya dengan sinyal telepon seluler.
Koneksi akan tercapai dengan sempurna tanpa hambatan, delay, atau gangguan jika sinyal yang dipancarkan oleh transmitter manusia tidak terhalang oleh hambatan. Hambatan ini bisa berupa berbagai macam perilaku buruk yang dilakukan manusia yang pada dasarnya akan mengganggu kualitas hubungan dengan Base Transmitternya...sang pencipta.
Tuhan tidak pernah mengurangi kualitas pancaran sinyal sepanjang masa sama seperti BTS, hanya memang koneksi hanya akan tergantung dari si penerima. Kualitas telepon genggam a.k.a kualitas diri/pribadi, kualitas koneksi a.k.a adanya hijab berupa dosa, frekuensi hubungan a.k.a kuantitas hubungan dengan BTS.

Intinya menyrnangkan bisa mendengar khutbah semacam ini.
Mencerahkan dan sekaligus tidak membuat ngantuk
Mengingatkan saat2 mendengar seorang Komaruddin Hidayat berkhotbah di Madania....whiiii...orang pintar itu.

Musti lebih banyak orang yang bisa berkhotbah dengan efektif nih, bukan cuma berkoar mengajak berperang jihad atau berbicara ibadah dengan bahasa awan...lantas lupa kasih tau jemaah bahwa kebiasaan sederhana seperti merapikan sendal, membuang bungkus permen, bergunjing, atau    membiasakan diri tepat waktu merupakan cerminan paling sederhana dari kualitas keberagamaan seseorang.
Turn out, banyak muslim yang pamer ritual ibdah tapi tidak melakukan esensi beragama.
Banyak sekali kan yang melakukan haji bolak balik tapi sepulangnya tetap bergunjing, melanggar lampu merah, atau hal lain.
Ritual berhaji ini jadi ajang pembuktian diri bahwa saya "mampu" dan kerap jadi indikator kualitas keberagamaan...ujungnya jadi komoditi agama untuk dijual.

Udahlah...untungnya ini blog pribadi.

Jaka
Arch Hotel Bogor

Komentar